Breaking News
Loading...

Recent Post

Minggu, 12 Januari 2014
Sejarah Desa

Sejarah Desa

Rumah Kepala Desa

Asal usul nama Sokobanah punya cerita sebagai berikut : leluhur kita bernama Pangeran Romo (Pangeran Tjokro Negoro ke-II) beliau manjadi raja atau adipati Sumenep tahun 1700 M-1702 M dan kawin dengan R.Ay. Gumbrek.  Pangeran Romo adalah putra dari Pangeran Gatot kotjo (Adikoro ke-I) Pamekasan. Ibunya bernama R. Ay  Otok . Pangeran Romo tjokro negoro ke II berputar sbb :
1. R.Ay Ratnadi ( R. Tumenggung wiro menggolo ) yaitu Ratu di Sumenep tahun 1705-1707 SM.
2. R. Ahmad (Pangeran jimat atau tjokro Negoro ke III) memerintah di Sumenep  pada tahun  1707-1730 SM. 3. R.Ay Rasmana  ( Ratu tumenggung Tirtonegoro) yang kawin dengan Bindara saut (R. Tumenggung Tirtonegoro) yang memerintah di Sumenep  pada tahun 1737-1762 M sedang  R. Ay Ratnadi  kawin dengan pangeran Purwonegoro (R.tumenggung Wiro menggolo) memerintah tahun1705-1707 dan mempunyai putra dan putri 11 orang.

Pada waktu pemerintahan Bindara Saut (R.Tumenggung  Tirtonegoro) tahun 1737M yang beristri R.Ay Rasmana (Potre koneng) timbul perselisihan sesama famili atau keluarga di Sumenep yang disebabkan Bindara Saut dianggap sebagai rakyat biasa, sehingga para bangsawan banyak yang tidak setuju, hal itu mengakibatkan banyak bangsawan Sumenep tersebut  berpindah (eksodus) keluar dari Sumenep, ada yang ke Pamekasan , ada yang ke Sampang dan ada pula yang ke Bangkalan, serta ada yang ke Besuki, Pasuruan dan Probolinggo . Pada masa bindara  Saut di angkat menjadi tumenggung di  Sumenep  pangeran Purwonegoro ke II  putra dari Pangeran Purwonegoro ke I selaku patih tidak setuju dan beliau akan (hampir) membunuhnya dengan pedang, ini dibuktikan dengan bekas sabetan pedangnya yang masih ada di Pendopo Asta Tinggi Sumenep hingga sekarang  dan leluhur kita dari yang 11 orang tersebut  7 orang terpisah, sedangkan yang pindah ke Sokobanah  hanya 4 orang  dan berubah nama  atau gelar dari nama aslinya yaitu :
1. Djaga satra (Bujuk mongging I)
2. Djaga Satro (Bujuk Mongging  Ke II)
3. Djaga sraba (Bujuk Kenanga Batu ampar Sampang)
4. Djaga Astra (Djujuk  labang R. Ario Djaga Astra).

            Menurut dawuh dari leluhur atau mbah atau kakek  R. Astro yudha,  Djujuk kita lazim dipanggil  Djujuk Labang . Panggilan tersebut berdasar atas jabatan yaitu  Labang (pintu gerbang) menurut keterangan sesepuh kita.  Sokobanah termasuk dibawah panembahan  Bangkalan yang berada  diperbatasan  antara  Bangkalan dan pamekasan. Pada waktu itu sebagian rakyat yang tidak menyetujui  pada pemerintahan Bangkalan, kemudian mereka menimbulkan kerusuhan-kerusuhan disana sini antar rakyat yang pro dan anti panembahan Bangkalan.  Pembunuhan, pencurian dan bajak laut  merajalela sehingga keadaan tidak aman. Pelopor kerusuhan-kerusuhan tersebut  tak lain adalah Djujuk kita bersaudara (4 orang) yang terkenal dan termasyur  di antar 4 bersaudara.  Djujuk kita tersebut bernama Sagatra  yang mempunyai 3 saudara yang kesemuanya laki-laki  seperti tersebut diatas.

            Berhubung keadaan di sukosodho terus menerus tidak aman bahkan semakin parah, akhirnya oleh  panembahan Bangkalan diadakan penjagaan  yang terdiri dari pasukan/prajurit (Pajinaman) dan semua penjaga yang ada di Sokobanah, akhirnya membahu dan mendengar bahwa kepala dari  kerusuhan tersebut  adalah Djaga sagatra  (Djaga Satra bersaudara)  sedangkan prajurit  penjaga keamanan dibawah pimpinan seorang tumenggung  bersama-sama rakyat yang pro padanya serentak mengadakan penangkapan terhadapnya.  Tetapi  malang nasib mereka karena perlawanan dari Sagatra Cs  yang amat seru  dan sengit, sehingga diantara prajurit-prajurit  dan rakyat banyak yang menemui ajal, luka berat  sedangkan yang lain melarikan diri.  Jenasah dari pihak lawan maupun kawannya oleh Djujuk Sagatra  Cs ditumpuk disebelah utara rumah yang ditempati Camat (Tugu Pahlawan) yaitu rumah R.Astro Judho disana ada sebidang tanah yang dinamai Palo batang yang terletak disebelah barat pemakaman Buk Pandan.  Tak lama dari kejadian tersebut dengan diam-diam tiba-tiba Djujuk Sagatra  dan Sagatro (Djaga Sagatro) ditangkap oleh prajurit  yang datang secara sembunyi-sembunyi kemudian ditawan ke Bangkalan.

            Sedangkan saudaranya yaitu Sraba (Djaga Sabra) melarikan diri keselatan dan menurut para sepuh, beliau menuju Batu ampar, Omben Sampang yaitu yang terkenal dengan Bujuk Kenanga.  Justru karena itulah menurut keterangan mbah atau kakek  kita ada pesan dari para sesepuh, jika ada diantara keturunan Djujuk berselisih dengan orang omben batu ampar jangan dilayani  kuwatir mereka masih keturunannya.  Sedangkan saudaranya yang termuda ( R.Ario Djaga  Astra) bersembunyi di Sokobanah.  Akhirnya saudaranya yang termuda dan famili-famili yang lainnya ingin sekali mendengar duduk perkara kedua saudaranya yang ditawan oleh panembahan Bangkalan.  Dan kurang lebih 4 bulan dari tertawannya Djaga Satra dan Djaga Satro maka saudaranya yang termuda (Djaga Astra) bersama dengan familinya pergi ke Bangkalan naik perahu.  Sesudah tiba di Bangkalan, kampung Bandaran mereka mendengar bahwa dua tawanan yang dari Sokobanah dijatuhi  hukuman rajam sampai mati.

            Menurut orang yang memberi kabar itu, setelah tawanan tersebut  menderita kesakitan akhirnya mereka berdua minta kepada para perajam yaitu saudara tertua (Djaga Satra) minta ditikam dibawah pelernya (kemaluannya) sedang saudara yang satunya (Djaga Satro) minta ditikam dibawah ketiaknya  hingga meninggal.  Jadi kelemahan Djaga Satra dan Djaga Satro adalah seperti tersebut diatas.  Setelah mendengar yang demikian itu, saudara termuda (Djaga Astra) mempunyai pendapat untuk menghadap panembahan guna mohon ijin agar jenasah  dibawa ke Sokobanah.  Permintaan tersebut oleh panembahan diijinkan  dan untuk membongkar jenasah saudara-saudaranya tersebut beliau diantar oleh hulubalang ketempat pekuburannya di maladjah.  Pada waktu penggalian orang-orang turut meyakinkan dan menyaksikan kagum, sebab jenasah kedua tawanan Djaga satra  dan Djaga Satro tersebut, walaupun mereka sudah dikubur lebih dari 5 bulan, jasadnya masih utuh dan tidak membusuk, kemudian setelah itu diangkat keperahu yang sudah disediakan. Dan sesampainya di Sokobanah semua rakyat menyambut dan jenasah-jenasah tersebut dikubur kembali kepekuburan mongging yang terkenal dengan sebutan Bujuk Mongging.  Akhirnya dawuh para sepuh kita bersaudara, saudara Sagatra yang termuda yang kita sebut dengan Djujuk Labang oleh panembahan Bangkalan diangkat menjadi kepala Jawatan Labang (pintu gerbang) didaerah Sokobanah dan daerah bagian atau kekuasannya ada dikecamatan Sokobanah sekarang hingga kedesa Paleh  Ketapang.

            Pangkat labang pada zaman panembahan berat sekali karena tanggung jawabnya disegala bidang, baik keamanannya maupun  perekonomiannya  dan tempat tinggal Djujuk labang tepat disebelah timur pemakaman Batu Tampe. Dan menurut keterangan para sepuh, tepat didepan rumah Djujuk Labang  diberi pintu gerbang sebagai tanda  rumah jawatan labang. Pintu (Labang) tersebut ada yang menjaga baik siang maupun malam, bila malam pintu gerbang tersebut ditutup dan berarti siapapun jika malam tidak diperkenankan berjalan terus dan harus menunggu hingga siang hari.  Djujuk labang (R. Ario Djaga Astro) berputra tiga orang  yaitu :
1. Madin(R. Ario Djaga Judho)
2. Nyai Bira yang kawin dengan Sayyid  Abdurrahman dan
3. Nyai Bella yaitu orang tua dari pak Misari kampung balanan desa Bira Timur dan mempunyai anak Buk Tahal.

            Setelah R.Ario Djaga Astra tersebut diangkat oleh panembahan Tjokroningrat ke V Bangkalan tahun 1747 M sebagai kepala jawatan labang, yaitu pintu gerbang perbatasan kraton Bangkalan dan Sumenep. Sebagai hadiah pada beliau kerena bisa mengamankan pemberontakan yang ada di desa Suko sodo, atas jasa djujuk kita (R, Djaga Astra) itulah maka daerah tersebut diberi nama Soka Ba”nah (Suka kamu) dan oleh Djujuk kita kekuasan tanah pemberian ini diberi nama Soka banah  yang sekarang menjadi nama kecamatan Sokabanah. Karena wilayah Sokobanah sangat luas maka yang posisinya berada ditengah selanjutnya diberi nama Sokobanah Tengah.

            Nama – nama Kepala Desa yang pernah menjabat di desa Sokobanah Tengah ini adalah sebagai berikut :

NO
NAMA KEPALA DESA
TAHUN
KETERANGAN
1
Rizal Andiansyah
2008 - 2014

2
M. Kasihuddin
1990 – 2008

3
Biarto
1975 – 1990

4
Masrukin M. Joyo Astro
1940

5
R. Mohammad
1905



Fasilitas Desa

Fasilitas Desa

Fasilitas desa ditujukan untuk membantu kegiatan warga agar berjalan lebih baik. Berikut adalah beberapa fasilitas desa yang terdapat di desa Sokobanah Tengah:


  • Sekolah / Madrasah
Salah satu SD di Sokobanah Tengah

Fasilitas sekolah yang ada di desa Sokobenah Tengah ini terdapat di beberapa dusun. Ada fasilitas sekolah negeri yang di danai oleh pemerintah yang berada di dusun setiap dusun di Desa Sokobenah Tengah. Sekolah dasar negeri ini memiliki kondisi bangunan yang sangat parah, dengan kondisi kelas yang tidak memungkinkan dalam kegiatan belajar mengajar, karena untuk satu lokal kelas digunakan untuk duan kelas, jadi 1 sekolah terdapat 3 ruang kelas. Begitu pula peralatan yang ada disekolah itu tidaklah layak untuk dijadikan pendukung dalam belajar.
Adapun sekolah swasta yang berlatar belakang Islam yakni yang tidak cukup lengkap yaitu MI, MTs, MA. Keadaan bangunan sekolah tersebut masih masih cukup bagus, dan peralatan juga cukup, untuk kalangan siswa-siswa madrasah.

  • Fasilitas Umum
Jalan utama desa Sokobanah Tengah
 Kondisi fasilitas umum yang ada di desa Sokobenah Tengah seperti jalan desa kurang memadai sebab masih banyaknya jalan desa yang belum teraspal sempurna. Hal yang serupa juga terjadi di jalan perbatasan desa yang tidak teraspal sama sekali sehingga berbatu dan sulit dilalui, dan jalan yang berbatu yang begitu menanjak sehingga untuk akses menuju setiap dusun sangatlah sulit. Hanyalah jalan protokol saja yang menghubungkan desa yang sangat bagus, tetapi untuk menuju desun-dusun sangatlah tidak layak.

Dari penuturan kepala desa buruknya fasilitas umum seperti jalan di karenakan rumitnya sistem birokrasi serta proposal yang diajukan pada pemerintah daerah tidak langsung disetujui begitu saja. Selama ini jalan yang dilalui penduduk khususnya daerah perbatasan dengan desa lain masih swadaya dari penduduk sekitar.
Selain jalan, fasilitas umum yang dapat ditemui di Akkor Sokobenah Tengah yaitu masjid. Dengan kondisi masjid yang tidak begitu besar dan hanyalah sesederhana untuk kegiatan beribadah.
Adapun fasilitas umum yang berkaitan dengan kesehatan masih dikatakan kurang. Hanya ada polindes dan bidan desa yang semuanya itu ditangani oleh satu orang bidan saja.

Polindes Desa Sokobanah Tengah


  • Balai Desa

Desa Sokobenah Tengah sesungguhnya telah memilki balai desa resmi yang dibuat oleh pemerintah. Namun tanah yang didiami merupakan milik pribadi dari kepala desa. Karena kepala desa di Sokobenah Tengah turun temurun jadi balaidesa tidak dipindah kemana-mana. Kondisi balai desa tidak layak dan bagian-bagian unit dari setiap ruang-ruang balai tidak ada, contohnya untuk ruang sekdes dan kepala dusun saja itu tidak ada. Fasilitas pendukungnya pun juga tidak ada seperti komputer, lemari buku dan dll.

Organisasi Pemerintahan

Organisasi Pemerintahan

Struktur Organisasi Pemerintahan Desa

Peran yang tak kalah penting di desa Sokobanah Tengah selain kepala desa adalah sekretaris desa. Dimana sekretaris desa merupakan perangkat desa yang tahu persis alur administrasi desa serta hal-hal yang berhubungan dengan administrasi kependudukan langsung akan berhubungan dengan sekretaris desa.
Sedangkan kebijakan-kebijakan kepala desa yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat desa Sokobanah Tengah diantaranya, Pembangian raskin secara rutin, Pembudidayaan tanaman bawang kepada warga desa, Pemberian fasilitas gratis di tingkat desa, Peletakan balai desa di rumah klebun agar mempermudah warga, dan dukungan penuh kepala desa terhadap berkembangnya ternak sapidan ayam potong.
Hal tersebut didukung dengan pola komunikasi yang cukup intens antara kepala desa dan aparat aparatur desa serta kepala dusun yang terpilih. Dan komunikasi antara klebun dan masyarakat terjalin intens dilihat dari seringnya klebun berinteraksi secara langsung dengan masyarakat baik di ruang publik formal dan non formal, serta seringnya kepala desa mengunjungi para warga di setiap kesempatan walimahan.
no image

Visi Misi Desa

A.  Visi

“Tercapainya kesejahteraan dan kemandirian masyarakat yang adil dan makmur”

B.  Misi

(1).  Peningkatan partisipasi aktif masyarakat dan efektifitas poskamling
(2).  Peningkatan kualitas dan kuantitas prasarana sarana sosial dasar dan ekonomi masyarakat
(3).  Pengembangan jaringan kemitraan dalam pembangunan
(4). Peningkatan peran serta masyarakat dalam proses pembangunan, baik dalam perencanaan, pelaksanaan maupun pelestarian
(5).  Mengembangkan potensi-potensi ekonomi (SDA dan SDM) berkelanjutan

Dalam rangka mencapai visi dan misi, strategi yang akan dikembangkan adalah menjadikan masyarakat utamanya rumah tangga miskin (RTM) sebagai subyek pembangunan, menguatkan sistem pembangunan partisipatif, serta mengembangkan kelembagaan masyarakat desa.
Jumat, 10 Januari 2014
Focus Discussion Group

Focus Discussion Group

Focus Discussion Group yang biasa disingkat FGD merupakan kegiatan awal dari proses Kuliah Kerja Nyata. Oleh kelompok 8 nama kegiatan ini sedikit disederhanakan menjadi Forum Diskusi, sehingga lebih mudah dipahami masyarakat Desa Sokobanah Tengah.

FGD diadakan untuk melakukan diskusi dengan aparat desa serta masyarakat tentang beragam program kerja di Desa Sokobanah Tengah. Sehingga dalam proses pelaksanaannya dapat dilaksanakan dengan lancar karena adanya dukungan dari masyarakat yang ada di desa tersebut.

Rincian kegiatan

Penanggung Jawab : Mulyanto

Tujuan : 
1. Silaturrahmi dan perkenalan temen2 kkn kepada perangkat desa dan warga. 
2. Menawarkan program kerja yang telah dibuat oleh anak2 kkn

Sasaran : Kepala desa dan perangkatnya serta masyarakat desa sokobanah tengah

Manfaat : Mengetahui keinginan warga, sehingga apa yang diprogramkan oleh teman2 kkn dapat mempunyai manfaat terhadap masyarakat sokobanah tengah.

Hari/tgl/pukul : Kamis / 09-01-2014 / 20.00 wib

Dokumentasi Kegiatan



Copyright © 2012 Desa Sokobanah Tengah All Right Reserved
Designed by CBTblogger